Skip to main content

Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Kejayaan Kerajaan Sriwijaya Dikenalkan Ke Empat Kota


Palembang, BP
Pemerintah Kota (Pemko) Palembang akan menyelenggarakan road show film seminar kebudayaan se-Indonesia di empat kota yakni Palembang, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta. Kegiatan itu untuk mengenalkan kejayaan Kerajaan Sriwijaya pada masa zaman dahulu.
Ketua Yayasan Kebudayaan Tandi Pulau, Erwan Surya Negara, mengatakan, penyelenggaraan roadshow akan dimulai pada Mei. “Film berjudul ‘Launching Napak Kilas Tentang Kerajaan Sriwijaya’ akan kita lakukan bulan Mei ini, tujuannya untuk merebut kongres kebudayaaan diselangarakan di Kota Palembang,” jelas Erwan, usai audensi dengan Walikota Palembang Eddy Santana Putra di ruang rapat Parameswara, Senin (30/4).
Menurut dia, pengenalan Kerajaan Sriwijaya ini akan dilakukan melalui film tentang masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya hingga zaman megalitikum Pasemah (zaman pra Kerajaan Sriwijaya). “Film ini berdurasi selama 1 jam 45 menit,” katanya.
Dalam hal ini, lanjut Erwan, pihaknya tidak serta merta menjalin kerja sama dengan pihak produksi film, mengingat yayasan betul-betul menyeleksi rumah produksi film agar pembuatan film benar-benar mengutamakan sisi Kerajaan Sriwijaya. “Pembuatan film tentunya ada kendala, salah satunya sulit mencari lokasi artepak dan barang pra sejarah lainnya,” ujar Erwan.
Sedangkan kendala lain, lanjut dia, pihaknya kesulitan menemukan tempat-tempat yang dianggap cocok dalam pembuatan film. Seperti tempat situs atau patung Budha yang ditemukan di Bukit Siguntang beberapa waktu lalu.
Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Palembang Mirza Fansuri mengatakan, pihaknya mendukung penuh apa yang akan dilakukan Yayasan Kebudayaan Tandi Pulau untuk mempromosikan tentang keberadaan Kerajaan Sriwijaya di Kota Palembang. Terlebih lagi kegiatan itu untuk meraih penyelenggaraan kongres kebudayaan di kota ini melalui pemutaran film di empat kota, termasuk Palembang.
“Bentuk dukungan kita dengan adanya rencana tersebut, akan menjalin kerja sama denga pihak pemilik bioskop. Salah satunya bioskop 21 untuk pemutaran film ini,” ujarnya.
Selain itu, kata Mirza, pihaknya juga akan memberikan rekomendasi tempat-tempat pengambilan gambar bagi Yayasan Tandi Pulau untuk pembuatan film itu. “Yang jelas kita dukung penuh mengenai film ini,” kata dia.

Comments

Popular posts from this blog

Sejarah Singkat Sunan Kalijaga

Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 1…

Sejarah Perang Paderi 1821-1837

Secara garis besar Perang Paderi meletus di Minangkabau antara sejak tahun 1821 hingga 1837. Kaum Paderi dipimpin Tuanku Imam Bonjol melawan penjajah Hindia Belanda.
Gerakan Paderi menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di masyarakat Minang, seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat (opium), minuman keras, tembakau, sirih, juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam.
Perang ini dipicu oleh perpecahan antara kaum Paderi pimpinan Datuk Bandaro dan Kaum Adat pimpinan Datuk Sati. Pihak Belanda kemudian membantu kaum adat menindas kaum Padri. Datuk Bandaro kemudian diganti Tuanku Imam Bonjol.
Perang melawan Belanda baru berhenti tahun 1838 setelah seluruh bumi Minang ditawan oleh Belanda dan setahun sebelumnya, 1837, Imam Bonjol ditangkap.
Meskipun secara resmi Perang Paderi berakhir pada tahun kejatuhan benteng Bonjol, tetapi benteng terakhir Paderi, Dalu-Dalu, di bawah pimpinan…

Biografi Ahmad Yani

Jenderal TNI Anumerta AChmad Yani (Purworejo, 19 Juni 1922]]-Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia. Pendidikan formal diawalinya di HIS (setingkat Sekolah Dasar) Bogor, yang diselesaikannya pada tahun 1935. Kemudian ia melanjutkan sekolahnya ke MULO (setingkat Sekolah Menegah Pertama) kelas B Afd. Bogor. Dari sana ia tamat pada tahun 1938, selanjutnya ia masuk ke AMS (setingkat Sekolah Menengah Umum) bagian B Afd. Jakarta. Sekolah ini dijalaninya hanya sampai kelas dua, sehubungan dengan adanya milisi yang diumumkan oleh Pemerintah Hindia Belanda.


Achmad Yani kemudian mengikuti pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di Malang dan secara lebih intensif di Bogor. Dari sana ia mengawali karir militernya dengan pangkat Sersan. Kemudian setelah tahun 1942 yakni setelah pendudukan Jepang di Indonesia, ia juga mengikuti pendidikan Heiho di Magelang dan selanjutnya masuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.

Berbagai pre…